Sejarah Daulat Bani Abasiyah pada masa pemerintahan Al-Ma’mun

a.      Masa kecil Khalifah Al-Ma’mun

Abdullah ibnu Harun al-Rasyid atau lebih dikenal dengan Al-Ma’mun, dilahirkan pada tanggal 15 Rabi’ul Awal 170 H / 786 M, bertepatan dengan wafat kakeknya Musa Al-Hadi dan naik tahta ayahnya, Harun Al-Rasyid. Ibunya adalah mantan budak yang kemudian dikawini oleh ayahnya. Namanya Murajil, dia meninggal saat masih dalam keadaan nifas setelah melahirkan Al-Ma’mun. Al-Ma’mun temasuk putra yang jenius, sejak kecil Al-Ma’mun telah belajar banyak ilmu. Sebelum usia 5 tahun ia dididik agama dan membaca Al-Qur’an oleh dua orang ahli yang terkenal bernama Kasai Nahvi dan Yazidi.

Dia menimba ilmu hadits dari ayahnya dari Hasyim, dari Ibad bin Al-Awam, dari Yusuf bin ‘Athiyyah, dari Abu Mu’awiyah adh-Dharir, dari Ismail bin ‘Aliyah, Hajjaj Al-A’war dan Ulama-ulama lain di zamannya.

Untuk untuk mendalami belajar Hadits, Harun Al-Rasyid menyerahkan kedua puteranya Al-Ma’mun dan Al-Amin kepada Imam Malik di Madinah. Kedua putranya itu belajar kitab Al-Muwattha, karangan Imam yang sangat singkat, Al-Ma’mun telah menguasai Ilmu-ilmu kesusateraan, tata Negara, hokum, hadits, falsafah, astronomi, dan berbagai ilmu pengetahuaan lainnya. Ia hafal Al-Qur’an begitu juga menafsirkannya.

b.      Koflik dengan Al-Amin dan pengangkatannya menjadi khalifah

Setelah ayah mereka meninggal, jabatan kekhalifahan sebagaimana wasiat dari Harun al-Rasyid diserahkan kepada saudara dari Al-Ma’mun yaitu nya Al-Amin. Dan Al-Ma’mun mendapatkan jabatan sebagai gubernur didaerah Khurasan dan menggantikan Al-Amin setelah dia meninggal.

Akan tetapi wasiat dari ayahnya tersebut dilanggar oleh Al-Amin dengan membatalkam Al-Ma’mun menjadi khalifah dan mengangkat puteranya Musa bin Muhammad sebagai penggantinya nanti. Akhirnya, setelah peristiwa tersebut terjadilah perselisihan antara dua orang bersaudara tersebut. Dan terjadilah peperangan antara kelompok Al-Amin dengan kelompok Al-Ma’mun pada tahun 198 H/813 M.

Khalifah Al-Amin mempersiapkan pasukan besar dan mengirim nya ke Khurasan dibawah pimpinan Ali bin Isa, yang merupakan seorang komandan yang dibenci oleh orang-orang Khurasan, padahal tentara yang paling banyak itu berasal dari Khurasan dengan jumlah kira-kira 50.000 orang tentara .

Sedangkan dipihak Al-Ma’mun,  beliau mempersiapkan pasukan yang terdiri dari prajurit-pajurit yang pemberani dan perkasa. Dan menempatkannya dibawah pimpinan panglima perang Thahir ibn Al Hasan dengan pasukan yang hanya berjumlah 4.000 orang tentara.

  Kedua pasukan pun bertemu, Ali bin Isa sombong dan bangga dengan jumlah pasukannya. Akan tetapi pertempuran berakhir dengan kekalahan dipihak Al-Amin dibawah pimpinan Ali bin Isa, karena para tentara Al-Amin tersebut tidak suka berperang bersama Ali bin Isa dan mereka tidak semangat bertempur.

Ketika itu, Al-Ma’mun mengumpulan tentara yang besar dan berangkat untuk menuju ke Baghdad dan melakukan pengepungan terhadap ibu kota tersebut yang berlansung selama hampir 1 tahun. Dan akhirnya Khalifah Al-Amin berhasil terbunuh pada tahun 198 H/813 M. dan diangkatlah Al-Makmun menjadi khalifah. Beliau menjabat khalifah yang ketujuh Daulat Bani Abasiyah dan menjabat selama 20  tahun. (198 H/813M – 218 H/833 M)

c.       Al-Ma’mun selama di Merv (Khurasan)

Setelah diangkat menjadi Khalifah, Al-Ma’mun masih berada di Merv yaitu ibu kota dari wilayah Asia Tengah (Khurasan). Selama berada di Merv tersebut beliau banyak sekali menghadapi berbagai permasalahan dan pemberontakan dari kelompok-kelompok yang tidak senang dengan kematian Al-Amin dan juga dari kelompok-kelompok lain.

Diantara pemberontakan-pemberontakan tersebut adalah gerakan menuntut bela atas kematian Al-Amin yang terjadi di daerah utara Syria. Gerakan itu dipimpin oleh Nashar ibn Sits. Permusuhan itu bemula pada tahun 198 H/813 M. dan Khalifah Al-Ma’mun mengirim pasukan dibawah pimpninan seorang panglima muda, panglima Abdullah ibn Thahir dan berhasil melumpuhkannya dengan pemberian ampunan kepada Nashar ibn Sits dan para pengikutnya.

Selain itu, terjadi pula beberapa pemberontakan lain, diantaranya: gerakan Ibnu Thabathaba (199 H/814 M), perusuhan di ibukota (201 H/816 M), perusuhan komplotan sukarela, dan juga gerakan Babek al-Kharrami yang merupakan sisa pengikut Mazdakism didalam lingkungan para pengikut Agama Zarathustra (Mazdaism) yang dulunya telah dibasmi oleh khalifah Al-Manshur.

Pada tahun 201 H/817 M, Khalifah Al-Ma’mun mengangkat Ali Al Ridha menjadi menantunya, dan belakangan beliau juga menyatakan ali al ridha sebagai pengganti khalifah setelahnya. Kebijakan khalifah tersebut sebenarnya bertujuan untuk mendamaikan antara Keluarga Alawiyah dan Keluarga Abasiyah yang telah bermusuhan sekian lama.

Akan  tetapi, kebijakan tersebut tidak mencapai sasaran seperti yang diinginkan, dan bangkitlah kegoncangan disana sini terutama di daerah Ibukota Baghdad. Dan terjadilah pemecatan terhadap Khalifah Al-Ma’mun dan mengangkat Ibrahim bin Al Mahdi, paman Al-Ma’mun menjabat sebagai khalifah dengan panggilan Al-Mubarrak.

Khalifah Al-Mubarrak dengan pasukan yang besar membasmi Keluarga Alawiyah di kota Kaufah. Akan tetapi Khalifah Al-Ma’mun berada dalam kebimbangan untuk mengangkat senjata, karena akan terjadi lagi pertumpahan darah antara keluarga.

Akan tetapi pada tahun berikutnya, yaitu tahun 202 H/ 818 M, terjadilah peristiwa yang tidak terduga-duga, Ali Al-Ridha mendadak  jatuh sakit disaaat perjalanan meuju Nisaphur dari Merv dan mangkat disitu. Dan pada tahun itu pula Wazir Fadhal bin Sahal mangkat di Baghdad. Dengan begitu dua tokoh yang memegang peranan penting bagi timbulnya sengketa antara dua  keluarga itu telah wafat. Dan dengan wafatnya kedua tokoh tersebut, maka Al-Ma’mun kembali mendapat kepercayaan hati masyarakat dan kembali bisa menduduki bangku kekhalifahan, sementara pamannya Al-Mubarrak menghilang dan barulah ditemukan 8 tahun kemudian.

d.      Pulang ke Baghdad

Setelah berkedudukan di Merv selama 6 tahun, iapun telah mampu memahami dan mempelajari keadaan Ibukota Baghdad yang sebenarnya. Dengan sepucuk surat saja ia telah mampu memulihkan wewenang dan wibawa pribadinya di ibukota.

Maka pada tahun 204 H/ 819 M, iapun bersama para pengikutnya  kembali ke Baghdad. Kedatangannya disambut dengan penuh kehormatan dan berlansung keramaian beberapa hari. Beliau dan rombongan pengiringnya masih mengenakan pakaian kebesaran berwarna hijau (lambang keluarga alawiyah) sewaktu tiba di Ibukota Baghdad. Tetapi setelah 8 hari berada di Baghdad agar tidak menimbulkan kemungkinan yang tidak dikehendaki, dia memerintahkan penghentian pemakainan warna hijau dan kembali menggunakan warna hitam (warna kebesaran abasiyah)

e.       Kepribadian dan gaya Al-Ma’mun dalam memerintah

Al-makmun menyerupai sebagian sifat ayahnya dan tidak menyerupai sifat yang lain. Al-makmun adalah orang yang pemalu, jujur, dan mulia, mencintai manusia, dan senang jika mereka mencintainya yang dalam hal ini beliau menyerupai ayahnya. Tetapi dia tiak menyerupai ayahnya dalam hal memecahkan masalah, ayahnya adalah orang yang bisa memecahkan masalah atau persoalan dalam waktu itu juga.adapun al-makmun karena dia adalah orang yang hati-hati, dia bisa menangguhkan pemecahan masalah hingga dia yakin terhadap pemikiran yang benar. Didalam melihat suatu persoalan dia melihat persoalan dari jauh dan dekat. Sama dengan ilmuwan kebanyakan dia tidak yakin terhadap suatu hal kecualai setelah melihat kondisi sebenanya.

Jika dikagetkan dengan suatu kejadian, dia akan menunda penyelesaiannya hingga pendapatnya tentang kejadian tersebut telah lurus. Beliau memecahkan segala persoalan dengan tenang, tanpa disertai amarah. Dia tidak memiliki kekerasan, dia ingin pemecahan dilakukan dengan tenang, halus, dan lembut. Namun menurut usuf al-isy, pemecahan tersebut masalah yang dilakukan oleh al-makmun tersebut tidak harus mensyaratkan bahwa pemecahan harus dilakukan dengan akhlak. Seperti yang dilakukannya dalam melenyapkan kedua tokoh (Ali al Ridha dan Fadhl bin Sahal).

f.       Masa aman dan makmur serta kemajuan yang dialami semasa Al-Ma’mun

Selama berkedudukan selama 14 tahun di Baghdad , 10 tahun berikutnya menjelang pecah sengketa dengan Imperium Bizantium, terpandang masa penuh keamanan diseluruh wilayah islam. Dengan keamanan yang terjamin serupa itu, maka timbul banyak kemajuan-kemajuan yang dicapai Daulat Abasiyah. Diantaranya:

1)      Bidang pertanian

Dengan keamanan yang telah terjamin, maka kegiatan pertanian disana sini berkembang kembali dengan pesat. Bahkan pertanian dikembangkan dengan luas, maka mutu dan keistimewaan buah-buahan dan bunga-bungaan dari Parsi telah makin meningkat, dan anggur dari Shiraz, Yed dan Isfahan telah menjadi komoditi penting dalam perdagangan diseluruh Asia.

2)      Bidang Perdagangan

Kegiatan perdagangan berjalan dengan lancar, tempat-tempat perhentian kafilah dagang kembali ramai dengan kafilah-kafilah yang datang dan memencar keberbagai penjuru. Lalu lintas dagang dengan Tiongkok melalui dataran tinggi Pamir  yang disebut dengan Jalan Sutera (Silk Road), dan Jalur Laut (Sea Routes) dari teluk parsi menuju bandar-bandar lainya kembali ramai.

3)      Bidang Pendidikan

Kemauan Al-Makmun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan tidak mengenal lelah. Ia ingin menunjukkan kemauan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat tradisi Yunani. Ia menyediakan biaya dan dorongan yang kuat untuk mencapai kemajuan besar di bidang ilmu. Salah satunya adalah gerakan penerjemahan karya-karya kuno dari Yunani dan Syria ke dalam bahasa Arab, seperti ilmu kedokteran, astronomi, matematika, dan filsafat alam secara umum.

Ahli-ahli penerjemah yang diberi tugas Khalifah Al-Makmun diberi imbalan yang layak. Para penerjemah tersebut antara lain Yahya bin Abi Manshur, Qusta bin Luqa, Sabian bin Tsabit bin Qura, dan Hunain bin Ishaq yang digelari Abu Zaid Al-Ibadi.

Hunain bin Ishaq adalah ilmuwan Nasrani yang mendapat kehormatan dari Al-Makmun untuk menerjemahkan buku-buku Plato dan Aristoteles. Al-Makmun juga pernah mengirim utusan kepada Raja Roma, Leo Armenia, untuk mendapatkan karya-karya ilmiah Yunani Kuno yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Selain para pakar ilmu pengetahuan dan politik, pada Khalifah Al-Makmun muncul pula sarjana Muslim di bidang musik, yaitu Al-Kindi. Khalifah Al-Makmun menjadikan Baghdad sebagai kota metropolis dunia Islam sekaligus pusat ilmu pengetahuan, pusat kebudayaan, peradaban Islam, dan pusat perdagangan terbesar di dunia selama berabad-abad lamanya.

Kemajuan yang paling besar yang dalam bidang bidang pendidikan yaitunya didirikannya perpustakaan yang dibangun disisi gedung observatorium di Baghdad yang dikenal dengan nama Baitul Hikmah. Yang terkenal kaya dengan karya-karya dan naskah-naskah. Dari baitul hikmah tersebut lah berkembang berbagai macam ilmu pengetahuan yang telah dimanfaatkan oleh manusia sampai pada saat sekarang ini.

4)      Bidang kesehatan

Diantara kemaujan yaitu berdirinya beberapa buah rumah sakit dan para dokter diwajibkan menempuh beberapa ujian sebelum diizinkan untuk membuka praktek. Dan begitu pun laboratorium-laboratorium didirikan unutk melakukan eksperimen terhadap tumbuhan- tumbuhan yang berkhasiat.

Dan masih banyak lagi kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh Al-Ma’mun selama pemerintahannya.

g.      Pelebaran kekuasan dan menghadapi Imperium Bizantium

Didalam pimpinan khalifah Al-Makmun ini, wilayah kekuasaan islam terbentang sangat luas dimulai dari barat dari tepian Pantai Samudra Atlantik sampai ke perbatasan dataran tinggi China. Dalam mengembangkan wilayah kekuasaan dizaman Al-Makmun, ada beberapa peristiwa besar yang dihadapi, diantaranya pendudukan Pulau Kreta (208 H/ 823 M), dan juga pendudukan Pulau Sicily (212 H/ 827 M).

Kemudian pada tahun 829 M, wilayah islam mendapat serangan dari Imperium Bizantium (Romawi). Dan menjelang penghujung tahun 214 H/ 829 M, iapun berangkat dengan pasukan yang besar untuk menyerang dan menakhlukkan kekuasaan impeium bizantium tersebut. Sehingga pada tahun 832 M pasukannya berhasil menduduki wilayah Kilikia dan Lidia. Didaerah Kilikia inilah khalifah Al-Ma’mun mendapatkan paham muktazillah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. Tetapi belum sempat cita-cita besar beliau untuk menakhlukkan Daerah Bizantium tersebut beliau telah mangkat  pada tahun 218 H/ 833 M.dan perjuangan selanjutnya dilanjutkan oleh saudaranya Al-Mu’tashim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: