Kesehatan Mental

Download makalah lengkapnya disini,,,,!!!!

A.    Pengertian Kesehatan Mental.

Sebelum kita membahas pengertian kesehatan mental. Kita perlu melacak dari beberapa pengertian yang telah oleh beberapa pakar psikologi. Dalam perjalanan sejarahnya, pengertian kesehatan mental mengalami perkembangan sebagai berikut :

a.       Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gangguan dan penyakit jiwa (neurosis dan psikosis).[1]

b.      Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.[2]

c.       Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk mengatasi problem yang biasa terjadi, serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan bathin (konflik).

d.      Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi, bakat dan pembawaan semaksimal mungkin, sehingga membawa kebahagiaan diri dan orang lain, terhindar dari gangguan dan penyakit jiwa.[3]

Dari pengertian diatas diambil suatu batasan bahwa orang yang sehat mentalnya adalah orang yang terhindar dari gangguan dan penyakit jiwa, mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalah-masalah dan kegoncangan-kegoncangan yang biasa, adanya keserasian fungsi jiwa, dan merasa bahwa dirinya berharga, berguna, dan berbahagia serta dapat menggunakan potensi-potensi yang ada semaksimal mungkin.

Dalam pengertian yang sangat sederhana kesehatan mental sudah dikenal sejak manusia pertama yaitu Adam, karena Adam merasa berdosa dan meyebabkan jiwanya gelisah dan sedih. Untuk menghilangkan kesedihan itu ia bertaubat kepada Allah dan taubatnya itu diterima  di sisi Allah SWT.

Kesehatan mental sebagai salah satu cabang ilmu jiwa sudah dikenal sejak abad ke-19, seperti di Jerman tahun 1875 M, orang sudah mengenal  kesehatan mental sebagai ilmu walaupun masih sederhana.

Pada Abad ke-20 ilmu kesehatan mental sudah jauh berkembang dan maju dengan pesat sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi modern. Ia merupakan ilmu yang bersifat praktis dan banyak dipraktekkan dalam kehidupan  sehari-hari. Pada umumnya dulu pengertian orang tentang ilmu kesehatan mental sangat  sempit  dan terbatas. Seperti ada yang membatasi pengertian kesehatan mental pada absennya seorang dari gangguan jiwa. Pengertian semacam ini  dikemukakan oleh Sigmund Freud. William Glaser membatasi pengertian  kesehatan mental pada “rasa tanggung jawab” seseorang dalam memenuhi kebutuhan.

Mustafa Fahmi, sebagaimana yang dikutip Muhammmad Mahmud, menemukan dua pola dalam mendefenisikan kesehatan mental yaitu pola negatif (salaby) yaitu terhindarnya seseorang dari gejala neurosis (al-amradh al-‘ashabiyah) dan psikosis (al-amradh al-dzibaniyah) dan pola positif (ijaby), yaitu kemampuan individu dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan.

Menurut Marie Johada memberikan pengertian yang sangat luas tentang pengertian kesehatan mental dari yang sebelumnya, sehingga pengertian orang terhadap ilmu kesehatan mental mengalami perkembangan dan kemajuan.[4] Menurutnya, pengertian kesehatan mental tidak hanya terbatas kepada absennya seseorang dari gangguan dan penyakit jiwa, tetapi orang yang sehat mentalnya, juga memiliki sifat dan karakteristik utama. Walaupun dia mengartikan sangat luas tetapi pengertian yang dikemukakannya belum mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, karena agama belum termasuk kedalamnya.

Menurut Zakiah Daradjat, merumuskan pengertian kesehatan mental dalam pengertian yang luas dengan memasukkan aspek agama didalamnya. Kesehatan mental yang dikemukakan Zakiah Daradjat ialah: terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia dunia dan akhirat. Dengan masuknya faktor keimanan, ketaqwaan dan ketuhanan dalam pengertian ilmu kesehatan mental, maka pengertian kesehatan mental terasa luas dan mencakup seluruh aspek dari kehidupan manusia. Dan sekaligus menunjukkan bahwa agama mempunyai hubungan erat dengan kesehatan mental.

 B.     Prinsip-prinsip Kesehatan Mental.

Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip kesehatan mental dasar yang harus ditegakkan orang dalam dirinya untuk mendapatkan kesehatan mental yang baik serta terhindar dari gangguan kejiwaan.

Prinsip-prinsip tersebut adalah :

1.      Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri

Prinsip ini biasa diistilahkan dengan self image. Self image yang juga disebut dengan citra diri merupakan salh satu unsure penting dalam pengembangan diri. Citra diri positif akan mewarnai pola hidup, sikap, cara berfikir dan corak penghayatan, serta ragam perbuatan yang positif pula.

2.      Keterpaduan antara integrasi diri

Yang dimaksud keterpaduan disini adalah adanya keseimbangan antara kekuatan jiwa dalam diri, kesatuna pandangan (falsafah) dalam hidup dan kesanggupan mengatasi stress.

3.      Perwujudan diri (aktualisasi diri)

Merupakan proses pematangan diri. Menurut Reiff, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang mampu mengaktualisasikan diri atau mampu mewujudkan potensi yang dimilikinya serta memenuhi kebuuhan-kebutuhannya dengan cara yang baik dan memuaskan.

4.      Berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal.

5.      Berminat dalam tugas dan pekerjaan

Orang yang menyukai terhadap pekerjaan walaupun berat maka akan cepat selesai dari pada pekerjaan yang ringan tapi tidak diminati.

6.      Agama, cita-cita, dan falsafah hidup

Untuk pembinaan dan pengembangan kesehatan mental orang membutuhkan agama, seperangkat cita-cita yang knsisten dan pandangan hdup yang kokoh.

7.      Pengawasan diri

Pengawasan terhadap diri merupakan hal pokok dari kehidupan oang dewasa yang bermental sehat dan berkrepibadian normal karena dengan pengawasan tersebut orang mampu membimbing segala tingkah lakunya.

8.      Rasa benar dan tanggung jawab

Rasa benar, dan tanggung jawab dan sukses adalah keinginan setiap orang yang sehat mentalnya. Rasa benar yang ada dalam diri selalu mengajak orang kepada kebaikan, tanggung jawab dan rasa sukses.[5]

 

C.    Aliran Dalam Kesehatan Mental

1.      Psikoanalitik

Aliran ini dikenal dengan tokoh yang mempeloporinya yaitu Sigmund Freud dengan pandangan bahwa manusia adalah makhluk evolusi yang terjadi secara kebetulan dan merupakan makhluk biologis. Psikoanalisis merupakan suatu sistem dinamis dari psikologi yang mencari akar tingkah laku manusia didalam dorongan dan konflik yang tidak disadari. Freud memandang tingkah laku manusia terjadi karena terdapatnya interaksi antara tiga ala dalam personaliti yaitu id, ego dan super ego.

Id bekerja menurut prinsip kelezatan, dan tidak dapat mengambil pertimbangan-pertimbangan sosial dan tidak bersifat realistis, tetapi ia sanggup membentuk khayalan-khayalan untuk pemuasannya, meskipun dalam arti sesungguhnya. Ego muncul untuk memuaskan id, ego bekerja diatas prinsip realitas dan menggunakan potensi intelektual. Sedangkan super ego bekerja diatas prinsip nilai-nilai akhlak dan berkenaan dengan yang betul dan yang salah. Oleh karena itu, super ego sering juga disebut dengan hati nurani.

Penganut aliran psikoanalitik lainnya yakni Erick Fromm. Ia pesimis bahwa manusia akan mencapai kesehatan mental dalam arti yang sebenarnya. Menurutnya manusia hanya sanggup mendapatkan kesehatan mental sebahagiannya saja. Sebab ia dengan kondisi yang saling bertarung tidak akan mungkin mencapai kebahagiaan dan kemajuan sekaligus.

Aliran psikoanalitik mendapat kritik dari berbagai pakar psikologi karena aliran ini dipandang sangat menyederhanakan energi dasar dalam diri manusia pada insting.

2.      Aliran behavioristik

Aliran ini dipelopori oleh Thorndike dan John B. Watson. Aliran ini menitik-beratkan kepada tingkah laku manusia. Mereka memandang manusia diibaratkan mesin. Tingkah lakunya merupakan respon dari setiap stimulus. Aliran ini berpendapat bahwa kesehatan mental adalah kesanggupan seseorang untuk memperoleh kebiasaan yang sesuai dan dinamik yang dapat menolongnya berintegrasi dengan lingkungan, dan menghadapi suasana-suasana yang memerlukan pengambilan keputusan. Dengan kata lain, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang mampu ber-adjusment secara baik dengan lingkungan dimana ia berada.

3.      Aliran Humanistik

Aliran ini dipelopori oleh Abraham Maslow, seorang yang semula beraliran behavioristik, merasa tidak puas dengan aliran tersebut. Ia meragukan keadaan manusia yang dikondisikan seperti mesin yang mengatur stimulus-respon.

Aliran ini berpendapat bahwa pengkajian terhadap manusia harus didekati dari sudut kemanusiaannya. Manusia dilengkapi dengan potensi yang bebas dipergunakan menurut kemauannya. Oleh karena itu kesehatan mental, menurut aliran ini adalah kesadaran terhadap potensi-potensinya dan kebebasannya untuk mencapai apa yang dikehendaki dengan cara yang dipilihnya.

4.      Aliran psikologi transpersonal

Aliran ini merupakan kelanjutan dari aliran humanistik. Penggagasnya juga termasuk Jung, Abraham Maslow, Victor Frankl, William James yang banyak mempengaruhi pemikiran Jung.

Menurut Maslow, pengalaman keagamaan adalah peak experience, plateu dan father reaches of human nature. Dalam arti kata psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali pada spiritual agama. Aliran transpersonal dan psokoterapi menawarkan perjalanan psikologis untuk menemukan diri dengan melihat kedalam “self ego, eksistensi psikologis”. Agama membicarakan tentang kesadaran spiritual yang luas dan multi dimensional. Diri kita, eksistensi psikologis kita , merupakan penampakan luar dari esensi spritual kita.

 

D.    Kedudukan dan peran kesehatan mental dalam Islam

Dalam dunia Islam, kedudukan, fungsi, dan peranan kesehatan mental tampak lebih jelas lagi. Maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi adalah untuk beribadah dalam pengertian luas. Ibadah dalam pengertian, kegiatannya mencakup seluruh aspek kegiatan manusia. Baik yang bersifat i’tiqad, pikiran, amal sosial, jasmani, rohani, akhlak, dan keindahan.[6]

Pengertian ibadah dalam Islam secara luas adalah pengembangan sifat-sifat Allah yang pada manusia untuk menumbuhkan potensi diri yang telah diberikan Allah berupa potensi-potensi yang terdapat dalam nama Allah yang agung (al-asma al-husna), seperti potensi ilmu, kuasa, sosial, kekayaan, pendengaran, dan pemikiran, serta potensi-potensi lainnya.

Dengan demikian maksud dan tujuan ibadah dalam Islam tidak hanya menyangkut hubungan vertikal atau hablun min Allah, tetapi juga menyangkut hubungan horizontal yang meliputi hablum min al-annas, hablun min al-nafs, dan hablun minal-alam.

Dari uraian singkat di atas dapat dilihat bagaimana kedudukan kesehatan mental dalam Islam. Kesehatan mental dalam Islam adalah ibadah dalam pengertian luas atau pengembangan potensi diri yang dimiliki manusia dalam rangka pengabdian kepada Allah dan agamanya, untuk mendapatkan al-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang dan bahagia). Firman Allah :

 “Hai jiwa dalam ketenangan! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang senang dan diridhai-Nya.”

E.     Hubungan Agama Dengan Kesehatan Mental.

Kesehatan mental (mental hygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani (M. Buchori, 1982: 5). Menurut H.C Witherington, permasalahan kesehatan mental menyangkut pengetahuan serta prinsip-prinsip yang terdapat lapangan psikologi, kedokteran, psikiatri, biologi, sosiologi, dan agama (M. Buchori, 1982: 5).[7]

Sejumlah kasus yang menunjukkan adanya hubungan antara faktor keyakinan dan kesehatan mental tampaknya sudah disadari para ilmuwan beberapa abad lalu. Misalnya, pernyataan Carel Gustay Jung “diantara pasien saya yang setengah baya, tidak seorang pun yang penyebab penyakit kejiwaannya tidak dilatarbelakangi oleh aspek agama”.

Kenyataan serupa itu juga akan dijumpai dalam banyak buku yang mengungkapkan akan betapa eratnya hubungan antara agama dan kesehatan mental. Di Indonesia sendiri ada dua buku yang diterbitkan dengan judul Peranan Agama dan Kesehatan Mental oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat dan Agama dan Kesehatan Mental disusun oleh Prof. Dr. Aulia, telah membahas secara luas mengenai sejumlah kasus yang menunjukkan ada hubungan antara kesehatan jiwa dan agama. Dan Prof. Dr. Muhammad Mahmud Abd Al-Qadir lebih jauh membahas hubungan antara agama dan kesehatan mental melalui pendekatan teori biokimia. Menurutnya, di dalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaan-persenyawaan itu disebut hormon.

 

F.     Metode Perolehan Dan Pemeliharaan Kesehatan Mental.

1.      Metode Pengembangan Potensi

Ada dua unsur dasar pembentukan manusia yaitu jasmani dan rohani, dengan segala potensi yang melekat padanya, keduanya mempunyai kebutuhan dasar untuk bisa berkembang dan bermanfaat secara maksimal, sesuai  dengan keberadaannya.

a.       Potensi jasmani

Dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmaniah (potensi jasmani), Islam memerintahkan untuk makan, minum, dan beberapa hal yang  berkaitan dengan jasmani, secara cukup, dalam arti tidak  berlebihan atau  kurang dan sesuai dengan yang  telah digariskan oleh syari’at.

b.      Potensi rohani

Sedangkan untuk pengembangan rohaniah, khususnya akidah (potensi akidah), pada prinsipnya Islam mengajarkan agar manusia menjauhi segenap dosa dan kemaksiatan agar tidak mengotori akidah atau keimanannya.

2.      Metode Iman, Islam dan Ihsan

a.       Metode Iman

Sesuai dengan metode kesehatan mental adalah berlandaskan kepada agama, yaitu keimanan dan ketaqwaan. Hal ini dapat dimengerti sebagai indikator orang yang memiliki kesehatan mental adalah orang-orang yang senantiasa melakukan aktivitas-aktivitas keagamaan sesuai dengan iman yang melekat pada dirinya, sedangkan ketaqwaan merupakan kristalisasi iman seseorang.[8]

b.      Metode Islam

Seseorang yang mengaku Islam berarti ia melaksanakan, tunduk dan patuh serta berserah diri sepenuh hati terhadap hukum-hukum dan aturan Allah, yang dalam hidunya selalu berada dalam kondisi aman dan damai, yang pada akhirnya dapat mendatangkan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.

c.       Metode Ihsan

Ihsan secara bahasa berarti baik. Orang yang baik atau mukhsin adalah orang yang mengetahui hal-hal yang baik, dan dilakukan dengan niat yang baik.

3.      Metode Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

a.       Takhalli

Pada umumnya berarti sebagai membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, dari maksiat lahir dan batin. Takhalli juga berarti mengosongkan diri dari sifat ketergantungan terhadap kelezatan hidup duniawi.  Pada takhali, seseorang berjuang keras untuk dapat mengosongkan jiwa mereka dari sifat tercela yang mendatangkan kegelisahan pada jiwanya, sifat-sifat tercela itu antara lain

1.)    Hasad

Yaitu membenci nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepada orang lain agar nikmat itu terhapus atau hilang

2.)    Hiqd

Menurut al-ghazali hiqd adalah keadaan hati yang terus menerus berat, marah dan iri terhadap orang lain yang menimbulkan dendam.

3.)    Takabbur

Yaitu memandang rendah orang lain dan menganggap tinggi atau mulia diri sendiri atau membesarkan diri dihadapan orang lain.

4.)    Nifaq

Artinya bermuka dua atau berpura-pura, ia menjadi karakteristik orang munafik.

5.)    Kikir

Adalah sifat yang terlalu mencintai harta benda yang dimilikinya  dan hal itu membuat ia terikat pada dunia dan ia tidak mau memberikan harta kepada orang lain yang juga mempunyai hak didalamnya seperti fakir miskin, kepentingan umum, kegiatan-kegiatan sosial dan agama.

6.)    Su’ al-dzan

Yaitu buruk sangka. Buruk sangka terhadap siapapun sangat dicela oleh agama baik kepada Allah maupun manusia.

7.)    Riya

Yaitu memperlihatkan amal kebajikan supaya dilihat dan dipuji orang lain.

8.)    Ghabbah

Yaitu marah atau kemarahan dengan konotasi negatif dan kelebihan, sedangkan secara umum diartikan al-nafsu al ammarah bi al su’ yang selalu mendorong perbuatan jahat sehingga mendatangkan kerugian pada diri sediri dan orang lain.

9.)     Ghibah

Menggunjing atau menceritakan segala sesuatu mengenai orang lain yang orang lain itu tidak menyukainya apabila ia mengetahui.

10.)      Hub al-dunya

Cinta terhadap dunia. Cinta kepada dunia bisa berwujud mencintai kemasyuran, popularitas kekuasaan pangkat, dan jabatan.

11.)      Namimah

Adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba antara keduanya.

b.      Tahalli

Yaitu mengisi jiwa dengan sifat-sifat yang terpuji. Dengan metode ini jiwa seseorang tekah bersih dari sifat-sifat tercela dan maksiat, kemudian ia berusaha secara sungguh-sungguh mengisi diri dengan tingkah laku yang baik dan terpuji.  Diantara sifat-sifat yang terpuji adalah: taubat, zuhud, khauf, shabr, syukur, ikhlas, tawakkal, ridha, dan zikr al- maut

c.       Tajalli

Setelah mengetahui fase takhalli dan tahalli, maka metode pembinaan mental disempurnakan dengan fase tajalli. Tajalli adalah terungkapnya nur ghaib  untuk hati. Tajalli merupakan lenyap atau hilangnya hijab dari sifat-sifat kemanusiaan, lenyapnya segala yang lain ketika nampak wajah Allah.

4.      Metode Murabathah

Murabathah pada umumnya diartikan melakukakan ketekunan. Kalau dihubungkan dengan ajaran Islam berarti tekun dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Menurut said hawwa untuk melaksanakan metode murabathah ada beberapa yang harus dilakukan, yaitu:

a.       Musyarathah

Yaitu memenuhi persyaratan agar seseorang ingin mencapai ketenangan jiwa dan kesucian batin. Maka ia harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan agama, berupa melaksankan amal-amal shaleh yang ditetapkan allah serta amal-amal lain yang dipandang baik oleh masyarakat.

b.      Muraqabah

Yaitu memonitor perilaku sehari-hari. Apabila seseorang telah mengrjakan persyratan-persyaratan tertentu sesuai dengan ketentuan Allah SWT, maka tahap selanjutnya harus melakukan muraqabah atau memonitoring diri dan jiwa dikala sudah melaksanakan amalan-amalan yang sudah dilakukan.

c.       Muhasabah

Yaitu melakukan perhitungan pada diri sendiri sesudah beramal.

d.      Mu’aqabah

Berarti menghajar diri karena kurang berhati-hati. Bagaimanapun hati-hatinya manusia dalam membuat perhitungan, tetapi ia tidak dapat menjamin dirinya jauh dari perbuatan maksiat, atau setidak-tidaknya berlaku seadanya dan kurang berhati-hati dalam melaksanakan hak Allah SWT.

e.       Mujahadah

Yaitu bersungguh-sungguh atau berjihad.

f.       Mu’atabah

Yaitu mencela keburukan yang dikerjakan dam menghukum diri sendiri. Kita diberi Allah SWT nafsu, kalau dorongan nafsu ini kuat maka ia dapat menaklukkan akal  dan hati, sehingga kekuatan akal dan hati menjadi lemah.

5.      Metode Pengendalian nafsu (riyadhah)

Riyadhah  adalah suatu latihan yang dilaksanakan secara terus menerus dalam rangka menekan daya nafsu. Menurut abdul mujib, substansi manusia memiliki tiga daya yaitu: a. qalbu (fitrah ilahiyah), b. akal (fitrah insaniyah), dan c. nafsu (fitrah hayanawiyah)

DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiah, 1983, Kesehatan Mental, cet. 1,Yogyakarta : Fakultas  Psikologi Press

Jalaluddin, 2005, Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Ramayulis, 2009, Psikologi Agama, cet. Ke- 9, Jakarta : Kalam Mulia

Semiun, Yustinus, 2006, Kesehatan Mental I, Yogyakarta: Kanisius

Sururin, 2004, Ilmu Jiwa Agama, cet. 1, Jakarta : Raja Grafindo Persada

http://ppraudlatulmubtadiin.wordpress.com/2009/11/14/agama-dan-kesehatan-mental/

 

[1] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Yogyakarta: Fakultas  Psikologi Press, 1983), cet. 1 h. 6

[2]Yustinus  Semiun, Kesehatan Mental I, ( Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 50

[3] Ibid. h. 11-13

[4] Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta : Kalam Mulia, 2009), cet. Ke- 9 h. 129

[5] Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004), cet. 1, h. 145-149

[6] Ibid, h. 148

[7] Jalaluddin, Psikologi Agama, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h. 156

[8] Op-cit, h. 170

 

2 Tanggapan

  1. blog yang anda miliki bagus!!!
    dan saya hanya blog walking
    jika berniat liat blog saya kunjungin balik ya??

  2. trima ksh byk,,,,,!!!
    yupz,,, smg kita bsa sm2 berbagi ilmu dan pengetahuan yang kita miliki,,,,,!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: