Ruh, Malaikat, dan Jin

RUH, MALAIKAT, DAN JIN

Pengen download makalah lengkapnya, klik aja disini,,,,

1. RUH
Dalam jasad manusia, terdapat suatu hal yang sangat menarik, sesuatu yang bersmbunyi dan bersemayam di dalam diri manusia, namun tidak bisa dilihat dengan penglihatan material maupun non material, tidak bisa didengar, diraba, dicium, dan dirasa. Dingkatnya tidak bisa dicapai dengan pancaindera biasa maupun dengan pancaindra luar biasa, yaitu yang disebut dengan Ruh.
Ruh, satu kata sederhana yang terbentuk dari susunan 3 huruf ternyata tidak mampu dijabarkan secara detil oleh manusia. Kamus-kamus bahasa yang ada di dunia juga tidak dapat menjabarkan arti ruh secara gamblang .
Namun dalam Al-Qur’an, kata Ruh sendiri memiliki banyak pengertian, dan memakainya dalam pengertian yang berbeda pula. Diantranya adalah wahyu, pembawa wahyu, yakni Jibril, dan roh yang membuat hidup badan.
Menurut Al-Kindi, ruh adalah berbeda dari badan kita dan ia mempunyai wujud sendiri. Argumen yang dimajukan Al-Kindi untuk menjelaskan tentang perlainan ruh dari badan itu ialah tentang keadaan badan yang mempunyai hawa nafsu, sedangkan ruh menentang keinginan hawa nafsu itu .
Sebagian ulama memahami kata ruh itu memiliki pengertian potensi pada diri makhluk yang menjadikannya dapat hidup. Dan ulama lain juga memahami bahwa kata ruh itu sebagai Jibril. Sedangkan menurut Thabathaba’i ruh adalah sumber hidup yang dengan ruh itu manusia dan hewan merasa dan memiliki gerak yang dikehendakinya .
Menurut Ibnu Sina, ruh dapat dibagi kepada 3 macdam, yaitu:
a. Ruh tumbuh-tumbuhan (al-nabatiyah), yang memiliki daya makan (al-ghaziyah), tumbuh (al-munmiyah) dan berkembang biak (al-maulidah).
b. Ruh binatang (al-hawaniyah), yang memiliki daya gerak (al-kuharrikah) dan menangkap (al-mudrikah).
c. Ruh manusia yang memiliki daya praktis (al-‘amilah) .
Ruh tidak ubahnya seperti cermin yang dapat menagkap gambaran dari benda-benda yang ada di depannya, dan karena ruh adalah cahaya dari Tuhan, maka ia dapat menangkap ilmu-ilmu yang ada pada-Nya, tapi kalau ruh itu kotor, maka sebagaimana halnya cermin kotor, ia tidak dapat menangkap pengetahuan yang dipancarkan Tuhan.
Selain itu, ruh juga bersifat kekal dan tidak hancur dengan hancurnya badan. Hal ini dikarenakan karena substansi ruh barasala dari substansi Tuhan. Selanjutnya, ruh itu berhajat pada badan, karena badanlah yang menolong ruh manusia untuk dapat berpikir. Pancaindera dan indera-indera bathinlah yang menolong ruh untuk dapat memperoleh konsep-konsep dan ide-ide dari alam sekelilingnya.
Sudah menjadi fitrah bagi setiap insan, dengan adanya rasa ingin tahu, terutama pada hal yang terselubung, terhadap rahasia, kemauan untuk mengetahui besar sekali. Semakin tersembunyi semakin membuat manusia penasaran.

Terutama di kalangan ahli fikir dan filosof, oleh karena mereka merasa mempunyai kelebihan akal, keinginan untuk mengetahuinya itu besar sekali, sehingga sampai ke batas ketidaksadaran, sehingga hilanglah keseimbangan antara akal dengan perasaanm sungguhpun ruh itu tidak bisa dicapai dengan cara bagiamanapun, masih diusahakan untuk mencarinya. Itulah sautu gambaran bila manusia tidak mendapatkan cahaya kesadaran dan keinsyafan, tidak menyadari bahwa itu diluar kemampuan manusia .
Kemauan manusia untuk mengetahui ruh, dicantumkan juga dalam Al-Qur’an, QS Bani Israil ayat 85:

Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul dalam memahami konsep ayat ini diperkirakan seperti “Apa yang berkaitan dengan ruh atau potensi ruh? Apa hakikat ruh? Apakah ruh qadim atau tidak? Apa makna kebahagiaan dan kesengsaraan ruh? Ke mana ruh setelah kematian?. Jelas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, kalaupun akan dijawab tentu tidak akan terjangkau oleh akal manusia dan hanya akan menyita waktu .
Para filosof dan pemikir sejak dulu, termasuk penganut agama Islam yang taatpun berusaha memberikan aneka jawaban, namun tidak satupun yang memuaskan nalar. Pembahasan mereka itu tidak dapat dinilai keluar dari tuntunan ayat di atas, karena jawaban yang diberikan Al-Qur’an di atas tidak mutlak dipahami sebagai jawaban akhir terhadap pertanyaan tersebut.
Thahir Ibnu ‘Asyur menulis bahwa jawaban ini mengalihkan para penanya dari kehendak mereka mengetahui apa yang ditanyakan itu, pengalihan yang bertujuan bagi kemaslahatan mereka sejalan dengan situasi dan kondisi pada saat itu. Atas dasar itu, tidaklah salah bagi kita dewasa ini berupaya mengetahui berupaya mengetahui hakikat ruh secara umum, karena situasi pada masa kini telah tersedia bagi param ilmuan sekian banyak alat-alat pengetahuan yang menjadikan situasi masa lampau dan yang mengantar tidak dijawabnya pertanyaan itu dan kini telah mengalami perubahan. Boleh jadi di masa depan akan terjadi banyak perubahan yang menjadikan ilmuan memiliki kemampuan untuk mengungkap sebagian dari hakikat ruh. Atas dasar itu Thahir juga mengatakan bahwa banyak dari teolog muslim yang juga tidak melarang untuk mempelajari ruh, namun tidak membahas tentang hakikatnya, karena nabi Muhammad pun tidak juga membahas hakikatnya. Para ulama yang memperbolehkan untuk membahas tentang ruh namun tidak membahas hakikatnya seperti Abu Bakar Ibnu Al-‘Arabi dalam bukunya Al-‘Awashim, dan An-Nawawi dalam Syarh Muslim, beliau menegaskan bahwa ayat ini tidak menghalangi ulama untuk membahas tentang ruh, karena ayat ini turun untuk sekelompok orang-orang tertentu dari orang-orang Yahudi dan bukan ditujukan untuk kamu muslimin .
Kami sependapat dengan apa yang kami kutip di atas, keran Allah memang memberikan kepada kita sedikit kebebasan untuk membahsa kerena Allah memang memberikan sedikit dari ilmu tentang ruh tersebut, sebagaimana dalam kalimat Wamaa utiitum minal ‘ilmi illa qaliila.
Tidak hanya para teolog dan pemikir muslim yang berusaha mempelajari sebagian substansi ruh, namun juga dari kalangan pemikir dan ilmuan non muslim. Di antara para pemikir dan ilmuan barat yang mencoba membahasnya antara lain:
a. James Maps. Seorang ahli kimia pertanian, dia menganggap kawan-kawannya yang terjun dalam ilmu ruh itu gila. Lama kelamaan dia tertarik membahas sebagian fenomena ruh tersebut.
b. Robert Hare. Guru besar dalam mata kuliah kimia di Universitas Harvard. Dia selalu mencemeehkan orang-orang teradahulu yang meneliti ruh, dan akhirnya dia juga tertarik untuk menelitinya. Bukunya Pnelitian Percobaan dari Perwujudan-perwujudan Ruh, judul aslinya “Experimental Investigation of The Spirit Manifestations.
c. Masih banyak lagi ilmuan-ilmuan lain, seperti Thomas Alfa Edison, William James, James Hervey Hyslop, William Macdougall, dan lain-lain.

2. MALAIKAT
a. Pengertian Malaikat
Secara etimologis kata Malaikah (dalam bahasa Indonesia disebut malaikat) adalah bentuk jamak dari malak, berasal dari mashdar al-alukah artinya ar-risalah (misi atau pesan). Yang membawa misi disebut ar-rasul (utusan) dalam beberapa ayat Al-Qur’an, malaikat juga disebut dengan rusul (utusan-utusan), misalnya pada QS Hud ayat 69.
Secara terminologi, malaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya dengan wujud dan sifat-sifat tertentu .
b. Penciptaan Malaikat
Malaikat diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya, seperti yang dijelaskan oleh Rasullah SAW:

“Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua”.
Tentang waktu penciptaan malaikat oleh Allah SWT tidak ada penjelasan yang kami temukan. Namun dapat kita pahami sendiri yang paastinya malaikat diciptakan oleh Allah SWT lebih dahulu dari manusia pertama (Adam AS).

Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 30:

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…. (Al-Baqarah ayat 30)

c. Wujud Malaikat
Sebagai makhluk ghaib, wujud malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dicicipi (dirasakan) oleh manusia. Atau dengan kata laintidak dapat dijangkau oleh pancaindra, kecuali jika malaikat menampilkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Dalam beberapa ayat dan hadist disebutkan beberapa peristiwa malaikat menjelma menjadi manusia.
Firman Allah dalam QS Hud 11:69-70:

Artinya: Dan Sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: “Jangan kamu takut, Sesungguhnya Kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.”

Juga dalam QS Maryam 19:16-17:

Artinya: Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia Mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Dalam suatu hadist riwayat Muslim disebutkan bahwa Malaikat Jibril pernah datang dalam rupa manusia menemui Rasulullah SAW disaksikan oleh sahabat-sahabat beliau, antara lain Umar bin Khattab dan menanyakan tentang Islam, Iman, Ihsan dan Sa’ah. Setelah Malaikat itu pergi barulah Rasulullah SAW bertanya kepada Umar: “Ya Umar, tahukah kamu siapa yang datang tadi? Umar menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Sesunguhnya Ia adalah Jibril yang datang mengajarkan agama kepada kalian”. (HR Muslim).
Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjenis laki-laki dan perempuan, dan tidak berkeluarga. Hidup dalam alam yang berbeda dengan kehidupan alam semesta yang kita saksikan ini. Yang mengetahui wujud asli malaikat hanyalah Allah SWT.
d. Sifat Malaikat
Malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia. Sebagaimana firman Allah QS Al-Anbiya’ 21:26:

Artinya: Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha suci Allah. sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan.
Malaikat selalu memperhambakan diri kepada Allah dan patuh akan segala perintah-Nya, serta tidak pernah berbuat maksiat dan tidak durhaka kepada Allah SWT. firman Allah QS Al-Anbiya’ 21:27:

Artinya: Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.

Dalam QS At-Tahrim 66:6:

Artinya: Dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
e. Nama dan Tugas Malaikat
Jumlah malaikat sangat banyak, tidak bisa diperkirakan. Sesama mereka juga ada perbedaan dan tingkatan, baik dalam kejadian maupun dalam tugas, pangkat dan kedudukan. Dalam surat Al-Fathir ayat 1 disebutkan bahwa ada malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat:

Artinya: Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam suatu hadist riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melihat Jibril bersayap enam ratus:

Artinya: “Rasulullah SAW melihat Jibril ‘alaihis salam bersayap enam ratus” (HR. Muslim)
Perbedaan jumlah sayap tersebut bisa saja berarti perbedaan kedudukan, pangkat atau perbedaan kemampuan dan kecepatan dalam menjalankan tugas. Sedangkan bagaimana bentuk sayap malaikat tersebut tentu saja kita tidak bisa mengetahuinya dan memang tidak perlu berusaha untuk menyelidikinya, kerana malaikat adalah makhluk ghaib (immaterial) yang hakekatnya hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya .
Sebagian dari malaikat ada yang disebutkan namanya dan sebagian lagi hanya dijelaskan tugas-tugasnya saja. Ada malaikat yang bertugas di alam ruh seperti memikul ‘arsyi, bertasbih kepada Allah SWT, memberi salam kepada ahli surga dan menyiksa ahli neraka. Dan ada yang bertugas di alam dunia, berhubungan dengan manusia seperti mencatat amal perbuatan manusia, mencabut nyawa, menurunkan hujan, menumbuhkan tanam-tanaman dan lain-lain.
Di antara nama-nama dan tugas-tugas malaikat adalah:
1) Malaikat Jibril AS. Bertugas menyampaikan wahyu kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul. Sebagaimana firman Allah QS Al-Baqarah ayat 97. Nama lain dari Jibril adalah Ruh al Qudus (An-Nahl 102), Ar-Ruh Al-Amin (Asy-Syu’ara’ 193) dan An-Namus (sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah waktu pertama kali meneriman wahyu).
2) Malaikat Mikail, bertugas mengatur hal-hal yang berhubungan dengan alam seperti melepaskan angin, menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan lain-lain. Sebagaimana firman Allah surat Al-Baqarah ayat 98.
3) Malaikat Israfil, bertugas meniup trompet pada waktu hari kiamat dan hari berbangkit nanti. Tentang tiupan itu dikatakan oleh Allah dalam surat Al-An’am ayat 73, Al-Kahfi ayat 99, Thaha 102, An-Naml 87, Yasin 51 dan Al-Haqah 13.
4) Malaikat Israil (Malakul Maut), bertugas mencabut nyawa manusia dan makhluk hidup lainnya. Firman Allah QS As-Sajadah ayat 11.
5) Malaikat Raqib dan ‘Atid. Bertugas mencatat amal perbuatan manusia. Firman Allah QS Qaf ayat 17-18. Di samping Malaikat Raqib dan ‘Atid, juga ada malaikat Kiraman dan Katibin yang bertugas mencatat amal manusia. Firman Allah QS Al-Infithar ayat 10-12. Kemudian ada lagi Malaikat Hafazhah (penjaga atau pemelihara), yang bertugas memelihara segala catatan amalan manusia itu. Firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 61. Sebagian ulama berpendapat, Malaikat Raqib dan ‘Atid, Kiraman, Katibin dan Hafazhah itu berlainan. Dan ada yang mengatakan bahwa mereka berada dalam satu kesatuan tugas dengan bidang yang berneda-beda, ada yang mengawasi, ada yang mencatat dan ada yang memelihara catatan itu .
6) Malaikat Munkar dan Nankir, bertugas menanyai mayat di alam kubur tentang siapa Tuhannya, apa agamanya dan siapa nabinya. Nama Munkar dan Nankir, ada dalam hadist riwayat Tirmidzi.
7) Malaikat Ridwan, bertugas menjaga surga dan memimpin para malaikat pelayan surga. Tentang malaikat-malaikat penjaga surga (khazanah) Allah berfirman dalam QS Az-Zumar ayat 73. Di dalam surga malaikat-malaikat juga memberi salam kepada para penghuninya, sebagaimana firman Allah QS Ar-Ra’du ayat 23-24.
8) Malaikat Malik, bertugas menjaga neraka dan memimpin para malaikat menyiksa penghuni neraka. Allah berfirman dalam QS Az-Zukhruf ayat 77. Dan tentang malaikat-malaikat penjaga neraka Allah juga berfirman dalam QS Az-Zumar ayat 71. Dan dalam QS Al-Mudtasir ayat 30 disebutkan bahwa jumlah penjaga dan penyiksa di neraka Saqar ada 19 malaikat.
9) Malaikat yang bertugas memikul ‘Arsyi. Sebagaimana firman Allah QS Al-Mukmin ayat 7.
10) Malaikat yang bertugas menggerakkan hati manusia untuk berbuat kebaikan dan kebenaran. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Artinya: “Syaitan dapat menggerakkan hati anak Adam, demikian pula malaikat dapat menggerakkan hati. Bisikan syaitan berupa godaan untuk melakukan kejahatan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan ajakan malaikat berupa dorongan untuk berbuat kebaikan dan meyakini kebenaran. (HR Ibnu Abi Hatim dan Tirmidzi).

11) Malaikat yang bertugas mendoakan orang-orang yang beriman supaya diampuni oleh Allah segala dosa-dosanya, diberi ganjaran surga dan dijaga dari sehala keburukan dan doa-doa lain. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Mukmin ayat 7-9.
Dan sabda Rasul:

Artinya: “Pada setiap pagi hari para hamba Allah disertai dua malaikat yang berdo’a. Yang satu berdo’a: “Ya Allah, berikanlah kerusakan harta orang yang tidak mau membelanjakan untuk kebaikan”. Dan yang lain berdo’a: “Berikanlah ganti pada orang yang mau membelanjakan hartanya untuk kebaikan”. (HR. Muslim).

Di samping tugas-tugas malaikat yang telah kami sebutkan di atas, masih banyak lagi tugas-tugas malaikat yang lain seperti: Ikut menghadari shalat Subuh dan ‘Ashar (HR Bukhari dan Muslim), menghadiri majlis-majlis dzikir (HR Muslim), memberikan bantuan kepada orang-orang beriman (Al-Anfal ayat 12), dan tugas lain yang kita temui dari Al-Qur’an dan Hadist.
f. Manusia Lebih Mulia Daripada Malaikat
Apabila manusia beriman dan taat kepada Allah, maka manusia akan lebih mulia dibandingkan dengan malaikat. Adapun alasan-alasan yang mendunkung pernyataan tersebut adalah:
1) Allah SWT memerintahkan malaikat sujud (hormat) kepada Adam AS. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 34.
2) Manusia diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 31-33.
3) Kepatuhan malaikat kepada Allah SWT karena sudah tabiatnya, sebab malaikat tidak memiliki hawa nafsu, sedangkan kepatuhan manusia kepada Allah SWT melalui perjuangan yang berat melawan hawa nafsu dan godaan syaitan.
4) Manusia diberi tugas oleh Allah menjadi khalifah dipermukaan bumi. Sebagaimana firman Allah QS Al-Baqarah ayat 30.
g. Hikmah Beriman Kepada Malaikat
Iman kepada malaikat adalah salah satu dari arkanul iman yang tidak boleh sedikitpun bercampur dengan keraguan. Iman kepada malaikat termasuk dalam pengertian al-birru (kebajikan), sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 177:

Artinya: “… akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab….”
Dengan beriman kepada malaikat, seseorang akan:
1) Lebih mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah SWT yang menciptakan dan menugaskan para malaikat tersebut.
2) Lebih bersyukur kepada Allah SWT atas perhatian dan perlindungan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya dengan menugaskan para malaikat untuk menjaga, membantu dan mendo’akan hamba-hamba-Nya.
3) Berusaha berhubungan dengan para malaikat dengan jalan menyucikan jiwa, membersihkan hati dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT, sehingga seseorang akan sangat beruntung jika termasuk orang-orang yang dido’akan oleh para malaikat.
4) Berusaha selalu berbuat kebaikan dan menjauhi segala kemaksiatan serta ingat senantiasa kepada Allah SWT, sebab malaikat selalu mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia.

3) JIN
a. Pengertian Jin
Secara etimologis, kata al jin berasal dari kata janna yang artinya bersembunyi. Dinamai al jin karena tersembunyi dari pandangan manusia. Kata lain yang berasal dari janna yaitu; Junnah artinya perisai, dinamai demikian karena menyembunyikan kepala prajurit yang memakainya; Jannah artinya surga atau taman, dinamai demikian karena taman tersembunyi oleh pohon-pohon yang rindang; Janin yang artinya jabang bayi, dinamai demikian karena tersembunyi dari perut ibunya .
Secara terminologis, jin adalah sebangsa makhluk ghaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari api. Sebagaimana firman Allah QS Al-Hijr ayat 26-27:

Artinya: Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.

b. Penciptaan Jin
Sebenarnya malaikat dan jin berasal dari unsur yang hampir bersamaan. Malaikat tercipta dari cahaya, sedangkan jin berasal dari sumber cahaya, yakni api. Mereka awal mulanya sama-sama taat kepada Allah, namun ketika Allah mengutus Adam AS sebagai rasul pertama, dan diperintahkan kepada malaikat, termasuk jin untuk bersujud menghormati Adam, sebagian dari jin ada yang taat dan seabagian yang lain membangkang, dan itulah yang dinamakan dengan iblis . Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Jin ayat 11, 14-15:
Ayat 11:
Artinya: Dan Sesungguhnya di antara Kami ada orang-orang yang saleh dan di antara Kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. adalah Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.

Ayat 14-15:

Artinya: Dan Sesungguhnya di antara Kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, Maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, Maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.

Bangsa jin juga merupakan mukallaf (diperintahkan untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana halnya manusia, sedangkan rasul yang mereka ikuti adalah rasul manusia. Sebagaimana firman Allah QS Al-An’am ayat 130:

Artinya: Hai golongan jin dan manusia, Apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri Kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

Adapun alasan mengapa Iblis tidak mau bersujud kepada Adam adalah adalah dengan sebab keangkuhan mereka, tanpa menyadari bahwa dirinya dan Adam sama-sama terwujud atas kasih sayang Allah belaka. Sebagaimana firman Allah QS Al-Israa’ ayat 61:

Artinya: Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”
Juga dalam QS Al-A’raf ayat 12:

Artinya: Iblis berkata “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah”.

Iblis itu adalah nenek moyang seluruh setan, yang seluruhnya selalu durhaka kepada Allah SWT dan bertekad untuk menggoda ummat manusia untuk mengikuti jalan mereka. Ringkasnya jin adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allah dari api. Mereka mukallaf seperti manusia, diantara mereka ada yang patuh dan ada yang durhaka. Yang durhaka pertama kali adalah iblis, dan anak cucunya adalah syetan.
Sayangnya banyak manusia yang menganggap golongan jin lebih tinggi dari mereka sehingga dengan merendah-rendah memuja jin dan meminta pertolongan kepada mereka. Akibatnya, yang seharusnya jin tunduk menghormati manusia sebagaimana manusia menghormati manusia sesamanya, karena jin juga bernabikan Nabi Muhammad SAW yang adalah manusia biasa sehingga sebagian jin yang tidak kuat godaan manusia berubah sombong dan memperhamba manusia. Sebagimana firman Allah dalam QS Al-Jin ayat 6:

Artinya: Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan[1523] kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim
Huda, F. 1983. Fenomena Ruh. Jakarta: Yayasan Jalan Terang
Machasin. 1996. Menyelami Kebebasan Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset
Nata, Abuddin. 1995. Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasauf. Jakarta Utara: PT RajaGrafindo Persada
Ar-Roisi, Abdurrahman. 1993. Keberadaan Manusia di Muka Bumi. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset
Ilyas, Yunahar. 2006. Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI)
Shihab, Muhammad Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah Volume 7. Jakarta: Lentera Hati

http://id.shvoong.com/books/1849563-menyingkap-alam-ruh/

Satu Tanggapan

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://satriyabisniss.wordpress.com/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: